Berikut ini adalah wawancara TIM Redaksi buletin PERSIS SPENSA dengan Kepala SMP Negeri 1 Waingapu, ibu Narwasty Danga Hinda, S.Pd tentang pendidikan di SMP Negeri 1 Waingapu.

Selamat pagi Ibu, senang berjumpa Ibu. Terima kasih untuk kesediaan berbicara dengan kami tim Redaksi. Hal pertama yang ingin kami ketahui adalah, sejauh mana Ibu dipercayakan menjadi kepala SMPN 1 Waingapu?

Saya menjadi kepala SMPN 1 Waingapu sejak Maret 2006 sampai dengan sekarang ini.

Bagaimana perasaan Ibu, ketika awalnya ditugaskan ke SMPN 1 Waingapu sebagai pimpinan?
Ya perasaan saya, biasa saja.

Apakah semuanya tercapai sesuai impian, ataukah masih ada yang harus diraih hingga saat ini, apa itu?
Baik, tentu setiap kita berada dilingkungan yang baru, khususnya kita sebagai pemimpin hal pertama yang kita lihat adalah, bagaimana Visi dan Misi sekolah itu, lalu tingkatan-tingkatan apa, lalu tujuannya. Setiap tahun itu tentu ada target yang harus kita capai. Sebelumnya kan, sekolah ini merupakan sekolah rintisan yang berstandar Nasional pada akhirnya menjadi sekolah standar Nasional, lalu juga dalam perjalanan pemerintah percayakan menjadi sekolah yang mengelola anak-anak yang berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak-anak Cerdas Istimewa (CI), kita sudah berjalan dan sudah menghasilkan tamatan-tamatan itu dan saya kira itu adalah sebuah prestasi dan hal-hal yang sekiranya belum tercapai tentu akan diupayakan bersama baik dari dimensi Internalnya atau Eksternalnya itu sama-sama bagaimana berproses supaya kita sama-sama capai sesuai dengan Visi dan Misi sekolah ini. Juga seperti tahun ini sekarang memang untuk perolehan-perolehan kita dalam bidang Akademik, memang masih kelas CI yang menjadi unggulan, berharap supaya tahun depan masih CI yang merupakan unggulan kita.

Berapa jumlah siswa SMPN 1 Waingapu seakrang ini, dan ada berapa kelas sekarang ini Bu?
Sampai dengan saat ini ada 28 rombongan belajar, lalu siswanya 899 orang.

Dengan jumlah kelas yang banyak dan siswa, bagaimana giat Ibu mengelola semuanya secara efektif?
Kita istilahnya bagi tugas sampai habis, jadi jumlah guru yang ada disini semua pasti mendapat tugas dalam hal bagaimana membina khususnya anak-anak dalam pengelolahan kelas secara keseluruhan, semua pasti mendapat tugas dalam pembinaan anak-anak.

Terima kasih Bu. Berbicara mengenai mutu, bagaiman pandangan Ibu dilihat dari presentase kelulusan dan pembandingannya adalah nilai, mohon penjelasannya Bu?
Ya, berbicara mengenai mutu memang banyak faktor yang mempengaruhi, jadi bukan hanya dari anak itu sendiri, dari guru-guru, kurikulumnya, dari orang tua, dari penjaga sekolah semua pegang peranan dalam hal bagaimana kita capai mutu itu dan disini saya cukup untuk kerja sama itu sudah ada, dan ketika kita bandingkan dengan perolehan nilai, angka-angka yang kita peroleh, ya saya rasa ada signifikan. Dan akhirnya kita lihat ketika dia sampai ke SMA bagaimana, ya memang ada anak-anak yang pada dasarnya ingin main-main, ya prestasinya se­perti anak-anak yang mau ketika dia dibentuk, diproses pada akhirnya juga nilainya memuaskan.

Siapakah di SMPN 1 Waingapu yang bertanggung jawab meningkatkan mutu kelulusan siswa?
Ya, semua. Siswanya itu sendiri, kepala sekolah­nya, guru-gurunya, orang tuanya semua bertanggung jawab. Dinas PPO juga bertanggung jawab.

Dari jumlah yang Ibu sebutkan tadi, siapakah yang dianggap menjadi mesin pergerakan di lapa­ngan?
Mesin pergerakan di lapangan itu guru, siswa, kepala sekolah. Di dalam kelas itu kan guru dan siswa, sedangkan kepala sekolah Supervisi dia.

Bagaimana dengan kinerja guru menurut Ibu?
Kinerja guru pada umumnya baik. Tapi manusiawi bila guru sakit, tapi ketika dia sakit dia akan berupaya lihat jam untuk menggantikan kemarin dia sakit, atau mungkin dia memberi tugas tambah­an.

Berbicara tentang kegiatan-kegiatan di SMPN 1 Waingapu, menurut Ibu kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat membangun karakter siswa di SMPN 1 Waingapu?
Satunya, ketika kita Apel pagi itu membangun dia punya karakter disiplinnya seperti apa, upacara bendera, kita ibadah praktis untuk menguji kese­tiaan siswa. Itu beberapa kegiatan yang kita lakukan untuk membangun karakter siswa. Kemudia kebiasaan dia menggunakan pakaian sekolah, hari senin dan selasa dia menggunakan pakaian putih biru, hari rabu dan kamis dia menggunakan pakaian sesuai dengan ciri khas SMPN 1 Waingapu, jumat dan sabtu dia menggunakan pakaian warna coklat. Kegiatan-kegiatan kepramukaan itu adalah bentuk-bentuk bagaimana kita menanamkan karakter.

Menurut Ibu, apa gunanya bagi siswa untuk mengikuti kegiatan Ekstrakurikuler?
Ya saya kira kegiatan-kegiatan Ekstrakurikuler itu sangat menunjang sekali untuk ilmu yang dia peroleh tadi itu, ketika di Implementasikan lewat kegiatan Ekstrakurikuler itu sebenarnya bentuk pengembangan diri, dia semakin berkembang, jadi kalo tadi dia didalam kelas dia hanya tau saja, ketika dia ada dalam kegiatan Ekstrakurikuler dia lebih berkembang.

Apakah semua Ekstrakurikuler bisa meningkatkan kualitas siswa?
Bisa, seperti kegiatan Ekstrakurikuler pramuka, saya kira semua dimensi bisa masuk disitu. Anda bisa merasakan sendiri ketika mengikuti kegiatan kepanduan, banyak hal kalo kita lihat yang ada pada diri manusia menurut Howard Gardner bahwa kecerdasan-kecerdasan ada yang Visual, Logik Matematik, ada yang kinesetik, ada yang musikal, itu ketika dalam kegiatan kepanduan dia terakomodatif. Jadi enaknya ketika kita berada dalam komunitas Ekstrakurikuler memang banyak dimensi-­dimensi yang karakter kita terbentuk dengan baik.

Faktor apa yang membuat Ekstrakurikuler bisa membuat kualitas siswa meningkat?
Dari sikapnya, semua yang ada di sini. Memang mau melihat bahwa kegiatan Ekstrakurikuler itu akan membantu pengembangan mutu dari anak itu sendiri. Ketika kita tidak anggap bahwa dia akan membangkitkan atau mengangkat kualitas kita ngapain juga. Dari sikap kita, misalnya baris-berbaris kita anggap itu untuk sebuah pembentukan karakter yang bagus, kalo kita tidak anggap bahwa dia bermanfaat kenapa.

Bukankah dengan mengikuti Ekstrakurikuler membuat waktu menjadi padat?
Ya tentu, justru semakin padat kegiatan yang kita lakukan kita akan merasakan bahwa memang waktu yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kita akan gunakan sebaik mungkin dan kita akan pertanggung jawabkan. Jadi tidak seenaknya bermain ya bermain tapi jam sekian saya harus kerja ini. Dan dengan sendirinya kehidupan kita akan tertata de­ngan baik.

Di sekolah ada dua program yang di laksanakan secara bersama-sama dengan Reguler, apakah menurut Ibu tidak melihat ini sebagai diskriminasi di dunia pendidikan?
Oh tidak, karena masing-masing sesuai dengan dia punya kemampuan. Sama de­ngan bunga, misalnya eforbia sama begonia tentu tidak akan sama, kalo kita memberikan pemupukan/perlakuan sesuai dengan dia punya kebutuhan pasti dia akan wow, jadi tidak ada masalah.

Mungkin Ibu bisa menjelaskan masing-masing keistimewaan dari kelas Aksele­rasi, Bilingual, dan Reguler?
Masing-masing tentu punya kelebihan, kekurangan, tapi pada intinya adalah ketika kita ada di kelas Reguler atau kita ada di Bilingual pemberlakuan juga sebenarnya tidak untuk seperti tadi itu (diskriminasi) bukan, justru ketika kita memberika perlakuan itu, kita mendorong, supaya dia bisa berkembang dengan baik, jangan kita paksa, jadi kalo memang dia di Reguler, atau dia di Bili­ngual, atau dia di Akselerasi justru itu sebenarnya sangat-sangat membantu dia untuk dia bertumbuh, berkembang sesuai dengan apa yang dia miliki, tentu masing-masing program itu ada dia punya Plus Min, mungkin kalo anak-anak reguler merasa, ‘’ah ngapain juga kalo saya di Aksel harus begini begitu’’, tapi menurut anak Aksel justru itu yang dia senangi, Bilingual juga begitu, ‘’ah kenapa memang juga harus demikian, jadi sebenarnya program-­program ini masing-masing dengan dia punya kapasitas ma­sing-masing.

Kita beralih pada lingkungan, kondisi lingkungan yang baik dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa. Menurut Ibu sejauh mana SMPN 1 Waingapu sudah mencapai itu, berapa persen menurut Ibu?
Kalau kita lihat presentase, kita lihat saja dari situasi kelulusan atau tingkat presentase kenaikan kelas itu kan berpengaruh dalam situasi. Jadi mungkin kondisinya memungkinkan sehingga anak itu bisa lulus seratus persen, atau anak itu bisa naik kelas delapan, bisa naik kelas sembilan, karena memang ada kondisi yang kondusif, aman kita belajar.

Kira-kira berapa persen?
Ya 100%, kalo sudah sampai lulus 100% ya indikatornya 100%.

Kondisi apa yang memadai, yang harus diperankan siswa, guru, pegawai, dan Ibu sendiri sebagai pemimpin?
Kondisi kita rasa memiliki, saya rasa memiliki SMPN 1 Waingapu, saya enjoy aja di sini, jadi saya kasi keluar betul-betul apa yang saya miliki sehingga saya berprestasi disini.
Kami dari Tim Redaksi mengucapkan Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang telah di berikan kepada kami, terima kasih Bu untuk kesediaannya.
Ya, baik saya juga berterima kasih atas kehormatan Tim Redaksi sudah boleh berkreasi, saya berharap apa yang dihasilkan ini akan menambah atau merupakan dasar-dasar untuk pengembangan ke hal-hal yang lebih baik. Terima kasih sampai jumpa, berharap datang lagi.[os]