Pagi itu nafas Umbu terasa sangat berat ditengah sejuknya udara yang seharusnya menyejukkan jiwa. Perkataan Mamanya malam itu membuat kepala dan hatinya tidak bisa tenang. Umbu tidak tau apa yang harus dikatakannya nanti pada Rambu, sang kekasih. HP Umbu berbunyi di tengah mendungnya suasana jiwanya. Umbu segera meraih HPnya dan melihat nama Rambu terpampang pada layar.

“Iya, halo Rambu” sapa Umbu dengan sedikit gugup.

“Umbu, sebentar kita ketemu ia? Ada yang sa mau omong sama kau. Penting pokoknya, kita ketemu di tempat biasa e.”

“Iya Rambu,” jawab Umbu singkat

“Oke, da...,” suara Rambu mengakhiri pembicaraan singkat di antara mereka.

Sehabis itu, Umbu meletakkan HPnya di atas meja. Hati Umbu semakin tak karuan. Ia bingung akan apa yang harus ia katakan nanti pada Rambu. Sebenarnya Umbu tahu apa yang akan dibicarakan Rambu padanya nanti sore.

Umbu dan Rambu adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan cukup lama. Rambu merasa mereka telah cukup dewasa untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Namun bagi Umbu, menikah bukanlah hal yang mudah dalam adat Sumba. Belum lagi ia harus melawan setiap argumen dan larangan Mamanya terhadap hubungan mereka.

Umbu terlahir dari keluarga bangsawan dan berada, sedangkan Rambu bukanlah keturunan bangsawan namun kehidupannya selalu berkecukupan. Inilah alasan mengapa Mamanya melarang Umbu menikah dengan Rambu.

Tak terasa sore telah menjemput kedua insan itu untuk bertemu di tempat yang telah mereka tentukan.

“Sore Rambu, engko mau omong apa?” Umbu membuka percakapan di antara mereka.

“Seperti biasa, sa mau kita serius, ko su omong sama kom mama?”

“Iya. Sa su omong, tapi sam mama ke dia masih ragu na Rambu”

“Ragu? Maksudnya kau bemana? Sa jadi bingung ini.”

“Aii…, kita jan bahas soal ini dulu e? Intinya sa sayang kau!”

“Oh, sa su mengerti skarang. Pasti kom mama tir stuju den kitam hubungan to?”

“Hhmmm….” Umbu hanya bergumam panjang. Ia tak sanggup melihat wanita yang dicintai menjatuhkan air mata. Umbu sangat bimbang. Apakah ia harus berkata sejujurnya pada Rambu?

“Ha Umbu, ko jawab dulu na! Ko jan diam ke patung situ!”, suara Rambu membuyarkan lamunan Umbu.

“Iya, tapi mungkin karna sam mama belum kenal baik sajah sama kau Rambu e. Ko jan langsung pikir aneh-aneh ia”.

“Cukupp! Yang penting sa su tau smua, makasih!” Rambu berlari menjauh meninggalkan Umbu. Ia merasakan hatinya telah remuk.

“Rambu! Tunggu, ko dengar dulu sa omong na.” Suara Umbu tak dihiraukan lagi oleh Rambu.

Rambu terus berlari sebisanya, walaupun ia tahu bahwa tenaganya telah habis terkuras mendengar perkataan Umbu. Umbu mengejar Rambu dengan terus berteriak memanggil Rambu. Namun, di saat lengah, rambu terantuk sebuah batu dan terjatuh. Akhirnya Umbu mendapati Rambu yang tersungkur. Ia segera mengangkat Rambu yang lemas.

“ Samua su jelas Umbu e! Tir usa su ko pikir kitam hubungan!”

“Apa?! Rambu ko jan ke ana kecil, kita su bagini lama bar ko enak omong begitu! Aii…, saya tir habis pikir den kau ko.” Suara Umbu parau.

“Tapi sudahlah. Kita bisa apa ju Umbu e? Kom mama se su tir stuju!”

“Tidak! Kalo dorang tetap bagitu, sa akan ancam mau kawin lari deng kau Rambu. Sa itu cuma bisa bahagia den kau se, tir ada yang lain lagi!” Umbu memeluk erat tubuh Rambu.

Rambu sangat tercengang mendengar keputusan Umbu barusan. Walau dengan keadaan berat, namun ia merasa lega, walaupun hanya sedikit. Setelah itu Umbu mengantar Rambu pulang. Orang tua Rambu telah mengenal Umbu dengan sangat baik. Dan orangtua Rambu sangat menyetujui hubungan mereka. Setelah mengantar Rambu pulang, Umbu segera pulang kerumahnya.

Sesampainya di rumah, Umbu duduk termenung di ruang tamu. Disela lamunannya, suara mamanya mengujutkannya.

“He Umbu. Ko su pulang? Pi makan su sana!”

“Mama…..”

“Ya Umbu?” Mamnya menatap Umbu heran.

“Sa tetap mau nikah e den Rambu!”

“Apa? Mama su kas jelas brapa kali lagi sama kau? pokoknya tidak! Ko mau kas malu Mama den Papa?! Apa su kalo keluarga yang lain dong bilang nanti? Ko harus cari yang sederajat den kita, jan ko asal tabrak se ha!”

“Tidak Mama. Yang bahagia nanti kan saya juga. Kal Mama tetap begitu juga, Mama den Papa jang kaget kal sa nekat kawin lari den Rambu!”, kata-kata Umbu membuat mamanya sangat terkejut. Setelah berbicara demikian Umbu bergegas pergi menuju kamarnya dengan penuh emosi. Ia membanting pintu kamarnya.

Mama Umbu duduk termenung. Ia semakin bimbang dengan pilihan anaknya ataukah harus menanggung malu. Tapi, jauh di lubuk hatinya wanita itu ingin memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu. Ia pikir jika ia memaksa anaknya, ia akan lebih menanggung malu karena anaknya kawin lari nanti. Akhirnya mama Umbu mengajak Umbu bicara lagi.

“Umbu, maaf su Mama su paksa kau. Ko yakin su batul su kalo itu parampuan kom jodoh?”

“Ia to Mama. Saya den dia su pacaran lama.” Umbu merasa akan ada jalan keluar.

“Kal memang kau su pilih dia, Mama su tidak bisa paksa kau lagi. Nanti kita omong sajah den kom Bapa supaya kita urus adat e.”

“Ha?? Yang betul ini Mama?? Makasih Mama e, sa senang skali na Mama, sa like skali ini Mama.” Umbu berkata demikian dengan perasaan senang dan dengan sedikit bergurau.

Malam itu kebahagiaan memenuhi hati Umbu, ia segera mengambil HPnya dari dalam saku celana, dan segera memberitahu Rambu kabar gembira itu. Dan Rambu pun sangat bahagia begitu mengetahui kabar baik dari sang kekasih.

Hari berganti bulan, akhirnya tibalah saat dimana keluarga Umbu datang untuk memperkenalkan diri ke keluarga Rambu. Setelah itu keluarga Rambu mendiskusikan kapan tanggal atau waktu yang tepat. Keluarga Umbu pun pergi untuk masuk minta, setelah keluarga Rambu setuju, mereka menentukan harga belis dan kapan waktu yang cocok untuk melansungkan pernikahan adat.

Setelah keluarga Umbu membayar belis, keluarga Rambu menentukan kapan hari pernikahan mereka.

Tak terasa upacara adat pernikahan telah dilaksanakan. Mama Umbu sangat bahagia melihat anaknya bahagia dan sangat menyayangi Rambu seperti anaknya sendiri.

Rambu dan Umbu tak pernah menyangka bahwa kekuatan cinta mereka dapat menyatukan segala perbedaan.

Akhirnya Umbu dan Rambu hidup bahagia selamanya.[*]

Pernulis: Tabita Mira (Kelas 9A)

Catatan:
• Masuk minta: salah satu prosesi acara adat Sumba untuk meminta ijin untuk meminang wanita kepada pihak keluarga wanita.
• Belis adalah prosesi adat Sumba yaitu meyerahkan sejumlah hewan dan emas dari pihak keluarga pria kepada pihak keluarga wanita.