Tio adalah anak yang baik. Tio suka menolong temannya yang kesusahan, Tio sangat tekun beribadah dan belajar. Tio hidup sederhana bersama ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal, ibunya sudah sangat tua hampir semua pekerjaan dikerjakan oleh Tio. Tio anak yang pintar dikelas dia selalu mendapat peringkat yang pertama. Dikelasnya ada seorang anak biasanya disapa Yoshi.

Yoshi adalah anak yang malas, nakal, dan bisa dibilang bodoh. Jika disuruh oleh ibunya untuk membantu pekerjaan rumah Yoshi selalu saja punya alasan untuk menghindar dari tugas yang diberikan. Di sekolah Yoshi dikenal sebagi “preman” kelas, Yoshi selalu menggangu murid lainnya di kelas. Mendapat nilai yang tinggi, konsen pada pelajaran itu semua diluar kebiasaan Yoshi. Kebiasaan Yoshi hanyalah bolos, tidur di kelas, dan nyontek. Oleh karena itu Yoshi selalu mendapat masalah di sekolah, Yoshi sangat membenci Tio karena Tio anak yang pintar.

“Hhhhuuuuaa’’, Tio menguap dengan keras. Tio melirik jam wekernya masih menunjukan jam 05.00 pagi. Tio mulai mengerjakan tugasnya di rumah, seperti membersihkan tempat tidur, menimba air untuk mandi, menyiapkan sarapan setelah itu Tio bersiap untuk ke sekolah.

“Yoshi... yoshi... ayo cepat bangun ke sekolah, kamu sudah terlambat!” ibu Yoshi memanggilnya dari dapur untuk membangunkan Yoshi.

’’Limabelas menit lagi bu,’’ jawab Yoshi.

‘’Sudah jangan banyak alasan, ayo cepat bangun,‘’ teriak ibu Yoshi.

‘’Iya... iya…,‘’ kata Yoshi seraya bangun dari ranjangnya.

Ketika Yoshi keluar kamar, Yoshi langsung ke kamar mandi. Lalu Yoshi segera bersiap ke sekolah. Ketika Yoshi sampai di sekolah, Yoshi sudah terlambat sekali. Lalu Yoshi segera masuk kelas.

Suasana di dalam kelas sangat ribut seperti di pasar saja. Anak-anak lainnya sedang asyik bermain. Sedangkan, Tio serius belajar karena akan ada ulangan harian. Ibu guru segera masuk ke kelas, siswa-siswi di kelas Tio langsung memberi salam.

‘’Baik. Sekarang kita akan segera memulai ulangan. Semua buku catatan, dan buku lainnya yang berkaitan dengan materi ulangan, harus dimasukan,’’ kata bu guru.

Semua siswa di kelas itu sedang mengerjakan soal ulangan. Tio mengerjakan soal dengan sangat mudah. Karena tadi Tio sudah belajar. Bel sudah berbunyi semua siswa mengumpulkan pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka langsung diperiksa. Nilai tertinggi adalah 100 yaitu nilai Tio, dan nilai terendah 10 yaitu nilai Yoshi.

Sudah sebulan berlalu, akhirnya ujian semester tiba juga. Selama ini Tio sudah belajar dengan baik dan Tio yakin kalau nilai yang akan didapat itu memuaskan dirinya.

Ujian dimulai. Semua siswa serius mengerjakan soalnya masing-masing. Yoshi sangat kebingungan karena tidak bisa menjawab soal ujian tersebut. Yoshi berusaha untuk menyontek untuk 10 jawaban yang dia dapat, ketika hendak menyontek lagi, Yoshi ketahuan oleh bu guru. Yoshipun dipanggil ke ruang kesiswaan.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mennyontek?” tanya bu guru dengan sangat marah.

Yoshi hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan bu guru.

“Kamu ibu beri hukuman. Kamu harus belajar bersama Tio, supaya kamu tidak tahan kelas,” kata bu guru

“Tapi, saya tidak mau belajar bersama Tio. Dia itu anak orang miskin, sedangkan saya anak orang kaya. Saya tidak mau bu,” protes Yoshi kepada bu guru.

“Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus belajar bersama Tio mulai hari ini, supaya nilaimu bisa berubah,” kata bu gura sambil marah-marah.

“Baik bu”, jawab Yoshi.

Ketika jam sudah menunjukan pukul 16.00 Yoshi segera kesekolah untuk belajar bersama Tio. Pada hari pertama belajar bersama, Yoshi tidak mau belajar. Tetapi Tio membujuk Yoshi untuk belajar.

“Belajar itu asyik, kita mendapat berbagai ilmu pengetahuan. Kamu harus belajar, supaya nilaimu naik,” bujuk Tio.

Yoshipun mulai belajar. Sudah seminggu mereka belajar bersama, mereka selalu belajar bersama, mengerjakan PR bersama. Ketika ulangan nilai mereka berdua tidak ada yang anjlok. Ketika penerimaan raport Tio mendapat peringkat pertama. Sedangkan, Yoshi mendapat peringkat kedua. Yoshi pun meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada Tio karena sudah mau belajar bersama dengannya.

Yoshi dan Tio sekarang menjadi teman yang akrab sekali seperti kakak dan adik saja.[*]

Penulis: Putra A. S. Pono (Kelas 9A)