Pelukis Senyuman

oleh -52 views

Aku selalu bermimpi menjadi seorang pelukis yang sangat handal, dan aku ingin melukis senyum pada setiap orang yang kuhampiri.Yoshua, nama yang diberikan oleh orang tuaku. Aku sangat berharap suatu saat nanti bisa menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain tersenyum dalam keadaan apapun.

Aku sudah lama mengidap penyakit leuki­mia. Penyakit yang semakin hari makin membuatku semakin lemah. Namun, aku tetap semangat dalam menjalani hidupku. Aku tak ingin siapapun tahu apa yang kurasakan saat ini, ter­utama sahabat baikku, Jems. Sudah hampir 6 bulan aku menyembunyikan tentang penyakit ini darinya, sungguh aku tak ingin membuatnya khawatir.

Pernah satu minggu aku absen dari sekolah, aku benar-benar merasa lemah melawan penyakit ini, aku merasa tak sanggup. Jems dan teman-temanku tidak tau tentang keberadaanku dan penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhku. Dan aku meminta mama tidak memberitahunya kepada pihak sekolah termasuk Jems, untung saja mama mau.

Perubahan fisik yang semakin lama makin jelas terlihat. Aku semakin kurus, wajahku sering pucat, selain itu aku sering pusing dan mimisan dan coba tebak! Aku mimisan ketika menggambarkan wajah jems yang pada saat itu berada di dekatku.Ini sangat membuatnya khawatir.“Bro… kamu mimisan!”

“Hmp… biasa aja, bro!” aku tetap menutupinya dengan sebuah senyuman, tapi tetap saja Jems curiga. Tiba-tiba…

Mataku terlihat gelap dan kepalaku sakit, aku merasa seperti sedang tidur dan beristirahat seje­nak.

Entah apa yang terjadi padaku..saat aku membuka mata, aku melihat aku sedang terbaring lemah dan ada Jems yang duduk menunggu di sampingku, “Jems.. apa yang terjadi?”

“Kamu mimisan dan pingsan! Bro, sebenarnya kamu kenapa?Apa kamu sakit? Sakit apa? Kamu kenapa tidak pernah memberitahuku?” terlihat dari raut wajahnya, ia sangat sedih.

“Aku tidak sakit apa-apa, tenang aja bro!.Aku cuma terlalu lelah.Aku butuh istirahat” aku melukiskan senyum di wajahku, berharap dia percaya dan tidak mencurigai apapun.

“Oh..aku hanya berharap kamu tidak bohong, Shua. Aku tidak tahu kamu kenapa sebenarnya, dan aku benar-benar sangat merasa bersalah, kalau aku tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padamu. Dan aku benar-benar tidak inginberpisah darimu, Shua!.Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku. Jadi, aku harap jangan nutupin apa-apa ya.”

Sungguh aku tak mengerti. Apa ini memang menggambarkan rasa perhatiannya sebagai seorang sahabat? Atau dia menyayangiku sebagai adiknya? Ya Tuhan..aku benar-benar tidak tega membohonginya, dan aku juga tidak ingin dia tahu tentang semua ini. Aku tidak mau orang lain khawatir dan kasihan padaku. Ya Tuhan..aku mohon.. bantu aku melewati semua ini.

Hari demi hari kulalui bersama Jems.Aku sering bermain dengannya.Dan kejadian-kejadian yang kualami semakin membuat Jems curiga. Aku mulai sering absen dari sekolah, selain itu juga aku sering mengikuti tes-tes medis dan beberapa terapi. Entah kenapa, semua ini bukannya menyembuhkanku, malah semakin membuatku lemah. Vonis dari dokter yang membuatku semakin pilu dan membuatku benar-benar ingin mengakhiri hidupku.

“Yoshua, waktu kamu 3 bulan lagi!” benar-benar membuat air mataku jatuh saat itu. Bahkan dokter menyaran­kanku untuk berhenti beraktivitas seperti biasa dan menyarankan aku untuk berdiam diri dan menghabiskan sisa hidupku di rumah sakit. Aku tak bisa, “Ma, Pa… kalaupun waktuku sebentar lagi. Aku tidak mau hanya tidur di rumah sakit, aku mau, di sisa hidupku, aku harus bisa buat semua orang senyum. Aku mohon, Ma, Pa…,” melihat Mama, orang yang sangat kusayangi menangis di hadapanku semakin membuat hatiku pilu. Aku merasa berdosa ketika aku membuat mama menangis. Entah tak tega melihat aku, dengan segera Mama menghapus air matanya dan menuruti permohonanku.

Waktu yang benar-benar singkat. Satu bulan sudah kulalui dengan teman yang sudah kuanggap kakakku, Mama, dan Papa. Aku tak sanggup. Mengingat vonis dokter, tiga bulan? Waktuku dua bulan lagi…ya Tuhan… inikah jalan takdirku?

Sementara itu, di rumah aku sering membuat lukisan wajah papa, mama, Jems dan seluruh teman-teman sekolahku yang sedang tersenyum. Kulukis wajah-wajah itu di sebuah kertas besar. Dan kuberikan judulnya di belakang gambar “They make me strong with a smile” dengan darah mimisanku….

“Jems… gimana kalau aku pergi meninggalkanmu, selamanya?”

“Maksud kamu, bro? Kamu kok ngomong gitu sih!”

“Enggak sih… Cuma seandainya saja. Aku juga tidak mau kok meninggalkan teman yang telah membuatku tak kesepin lagi, tapi kan suatu saat nanti kita pasti berpisah”

“Shua…” hanya itu yang dikatakannya padaku, wajahnya terlihat sangat bingung dan khawatir mendengar perkataanku. Hey man..kamu tahu? Kalau aku di kasih pilihan, aku tidakakan memilih keadaanku yang seperti ini. Aku akan memilih mengejar mimpi kita masing-masing dan membantumu dalam masalah apapun, meskipun semakin banyak duri yang menghadang. Tapi… itu takkan mungkin kan?

Entah kenapa tiba-tiba aku merasa gelap. Entah siapa.. yang mengangkatku, aku mendengar tangisan Mama. Saat aku tersadar, aku melihat diriku terbaring lemah di sebuah kamar dalam ruangan rumah sakit.Tanganku sudah di pasang infus, dan bantuan pernafasan. Buat apa ini semua? Aku tak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja.

“Kamu bohong, Shua! Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku? Kenapa kamu biarkan aku mengetahui penyakitmu ini setelah kamu sudah separah ini?” mata Vino berkaca dan dia agak membentakku.

“Jems…” entah kenapa suaraku menggambarkan aku sangat lemah. Aku tak sanggup, air mataku menetes saat itu juga. Kepalaku sangat sakit..melihat keadaan ini. Aku lelah.

“Kamu jangan menangis,bro. Laki-lakitidak boleh menangis. Maafkan aku, aku sudah ngomong kasar tadi. Aku janji man, aku akan nemenin kamu sampai kapanpun..”Jems mencoba tersenyum padaku.

Hari demi hari kulalui dengannya, dia selalu menemaniku di rumah sakit, hari minggu dan saat pulang sekolah. Semua yang kulewati dengannya membuatku semakin menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri. Malam itu aku berdoa sambil meneteskan air mata, “Bapa kami yang di sorga.. Terimakasih untuk semua yang telah kau berikan padaku sampai saat ini. Aku tetap bersyukur dengan semua ini. Tuhan.. aku tahu kondisiku sekarang sangat lemah, harapanku sangat kecil untuk bisa hidup lebih lama lagi. Ya Tuhan..aku tak mengerti tentang apa yang kurasakan saat ini. Di tengah-tengah sakit yang kurasakan, aku tetap bisa merasakan adanya kesetiaan seorang teman.Aku mohon ya Tuhan. Beri aku waktu lebih lama, aku ingin membuat semua tersenyum, aku ingin melukis senyum di wajah mereka semua ya Tuhan..aku juga ingin membuat kedua orangtuaku bahagia.. aku mohon ya Bapa, jika aku harus pergi, kirimkan penggantiku kepada kedua orangtuaku ya Bapa.. aku percaya mujizat itu akan datang padaku Ya Tuhan. Aku mohon…aku juga mohon ampun atas semua dosa-dosaku. Terimakasih Tuhan, dalam nama Yesus, aku sudah berdoa. Amen.”

Satu setengah bulan sudah terlewati, aku teringat tentang perkataan itu..waktuku tak lama lagi.. namun, setidaknya apa yang kuinginkan sudah tercapai, membuat orang yang kusanyangi tersenyum di sisa-sisa hidupku.Aku juga telah menunjukkan gambar yang ku buat di rumah beberapa hari yang lalu.Gambar itu membuat semuanya tersenyum haru, meneteskan air mata. Sekarang aku hanya menunggu, Tuhan mengirimkan penggantiku untuk Mama dan Papa. Mungkin dia ‘kan datang setelah aku pergi, menjadi penawar hati yang sedang terluka untuk orangtuaku. Aku hanya tinggal menghitung hari sampai Tuhan memanggilku. Aku sudah merelakan semuanya.

Hari ini..aku merasa sangat lemah. Detik demi detik terlewat begitu terasa.Inikah saatnya aku pergi?Detak jantungku semakin lama semakin lambat, semakin lama semakin sulit untukku menghirup udara.Aku tiba-tiba merasa gelap dan tak berdaya.Terdengar suara isak tangisan dan aku melihat badanku terbaring tanpa nyawa.Rohku pergi dari badanku. Mama menatap badanku dengan tangisan yang sangat kencang, Papa seorang sosok yang begitu tegar kulihat menangisi diriku, ingin memeluknya tapi aku tak sanggup.

“Shua..sekarang kamu sudah pergi, kamu sudah tenang di sana, aku sayang banget sama kamu, bagaikan adikku sendiri, Shua. Teman yang sangat kusayangi seperti adikku sendiri, pergi dan meninggalkan aku selamanya.Asal kamu tahu, man.Aku benar-benar menyesali semua ini, aku tahu kamu sakit seperti ini setelah kamu sudah semakin parah.Jangan lupakan aku ya, adikku.Aku selalu menyayangimu, dan selamanya menyayangimu. Makasih ya, kamu sudah jadi pelukis paling hebat yang sudah berhasil buat kami senyum di sisa hidup kamu, dan sampai kamu menutup mata kamu.. aku pasti rindu sama kamu, bro. Selamat jalan ya , Yoshua..” Jems menangis sambil mengangkat tanganku dan melakukan salam persahabatan yang terakhir.

“Aku juga sayang Mama, Papa, dan kakakku..selamat tinggal”.[*]

Penulis: Rian Josua Theopilus (Kelas 8CI)

No More Posts Available.

No more pages to load.